‘Bunga Untuk Mira’, Sebuah Adaptasi Bebas Mhyajo Bagi Milenials

by -648 views

JAKARTA, VoiceMagz.com – Pagelaran teater musikal bertajuk ‘Bunga Untuk Mira’ dipentaskan di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki pada 22 dan 23 Desember 2018.

Pagelaran yang terinspirasi dari legenda Bawang Merah dan Bawang Putih ini dikemas secara modern untuk menarik minat generasi milenial.

Sang sutradara, Mia Johannes, menyebut, teater musikal ini akan berbeda dengan teater musikal pada umumnya.

“Adaptasi legenda Bawang Merah dan Bawang Putih ini adalah adaptasi bebas yang saya balut dalam imajinasi fiksi ilmiah,” kata Mia saat jumpa pers di TIM, Jakarta, Jumat (21/12).

Salah satu perbedaannya adalah mengganti nama dua tokoh utama menjadi Mira dan Puti, tujuannya agar bisa diterima kalangan anak muda atau yang kini kerap disapa milenials.

Wanita yang akrab disapa Mhyajo ini menambahkan, teater ini akan diiringi musik orkestra dan dikemas dengan musikal teater Broadway.

“Akan ada live orchestra, begitu pula dengan nyanyian dari pemain. Saya juga dibebaskan memberikan sentuhan apapun, mulai dari modern, pop sampai dark. Bisa disebut jazz fantasi,” ujar Mhyajo.

Pementasan musikal ini akan menampilkan penyanyi Shae, Daniel Adnan, pemain harpa Maya Hasan dan Johan Yanuar.

Selain itu, Mhyajo juga melibatkan Mondo Gascaro yang akan menangani musik. Mondo akan bekerjasama dengan Indra Prakarsa dalam penggarapan orkestrasinya.

Nama penata gerak tari Ufa Sofura yang belum lama ini berkesempatan menjajal pementasan di Broadway, New York juga diikutsertakan.

Maya Hasan yang memerankan ibu dalam pementasan ini menjelaskan, karakter yang diperankannya adalah karakter seorang ibu yang jahat.

“Pokoknya, ibu yang paling jahat. Dia dipanggil ibu Suri,” beber Maya.

Sedangkan pemeran Mira, Shae mengatakan, untuk berperan menjadi tokoh antagonis seperti Mira dirinya harus rela melakukan ritual khusus untuk meminjamkan tubuhnya pada Mira.

“Memainkan karakter Mira secara emosional ini susah. Dia berbanding terbalik dengan aku dan proses kenalan sama Mira cukup sulit. Jadi kayak ada rutinitas khususnya. Agak aneh dan seram, sampai matiin lampu di rumah, membujuk Mira keluar, akhirnya berhasil dan aku bergerak seperti dia,” cerita Shae.

Hal yang sama juga dirasakan Dea Panendra, pemeran Puti. Ia juga merasakan ada kesulitan pada sisi musikalnya.

“Kesulitannya pada pendalaman peran Puti, dia kan seorang botanis yang punya kakak bernama Mira,” ujar salah satu pemain film ‘Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak’ yang baru saja diganjar Piala Citra di FFI 2018.

Bagi yang penasaran, silakan datang ke TIM untuk menyaksikan pentas adaptasi lakon Bawang Merah -Bawang Putih yang dikemas secara modern ini. (NVR)