Disrupsi dan Politik Selera pada Film Indonesia

by -114 views

Oleh: Ekky Imanjaya.

Dosen jurusan Film, Universitas Bina Nusantara. Gelar doktor di bidang Kajian Film diraih Ekky dari University of East Anglia.

Dalam perkembangan film Indonesia, disrupsi dan politik selera punya peranan besar. Mengapa bisa begitu?

Kehadiran ‘The Night Comes for Us’ (TNCFU) garapan Timo Tjahjanto di Netflix mengingatkan saya pada dua hal yang saling berkelindan: era disrupsi dan politik selera.

Untuk menjelaskan kelindannya, saya akan mulai dengan mengulas film aksi tersebut sebagai studi kasus yang menjadi gerbang untuk membahas cara industri perfilman berbenah dan beradaptasi dengan era disrupsi.

Dari situ, saya akan menjelaskan pula tentang semangat industri film dalam mencari platform baru dan kaitannya dengan politik selera. Setelah itu, saya akan membahas era disrupsi dan politik selera dengan pendekatan sejarah.

Mengapa TNCFU Penting? Era disrupsi melanda hampir di semua lini kehidupan, tak terkecuali perfilman di Indonesia. Setelah beberapa tahun lalu ada wacana soal seluloid digantikan dengan digital dan DCP (Digital Cinema Package), kini platform baru (digital dan daring) bermunculan.

Industri DVD pun meredup, meski ada pengecualian pada subsektor distribusinya, seperti gerai restoran cepat saji KFC yang masih menyirkulasikan film semacam Dilan 1990 dan Si Doel the Movie atau peredaran DVD film-film di luar negeri.

The Night Comes for Us. (Foto: Netflix)

Dalam konteks pencarian kanal distribusi dan ekshibisi alternatif, TNCFU adalah salah satu contoh dari upaya beradaptasi mengikuti jiwa zaman.

Film ini awalnya diputar perdana di Fantastic Fest pada 22 September 2018. Empat hari kemudian muncul pengumuman bahwa Netflix akan menyiarkan film ini sejak 19 Oktober 2018. Ia menemukan platform daring sebagai kanal penyebarannya. TNCFU adalah film Indonesia pertama yang dirilis melalui Netflix.

Secara umum, inilah gejala yang cenderung baru terjadi secara global. Para produser dan sutradara film pun melongok platform baru sebagai outlet untuk memutar film mereka.

Maka daya tarik platform OTT (over the top), seperti Netflix, Iflix, Hooq, Flik, hingga Amazon Prime, begitu menarik sebagai cara liyan untuk melakukan distribusi dan ekshibisi.

Wacana seputar platform daring ini sudah dibahas hangat, khususnya sejak kontroversi keikutsertaan Okja di seksi kompetisi utama Festival Film Cannes 2017.

Pembahasan tentang wacana ini, misalnya, apakah film yang diproduksi atau diedarkan hanya di Netflix atau secara daring bisa dianggap setara dengan “film panjang bioskop” yang dapat dipertimbangkan untuk dinilai di sebuah festival film. Atau, bahkan, apakah film-film yang hanya beredar di Netlix bisa didefinisikan sebagai “sinema”?

Maka, kini dengan relatif mudah kita bisa mendapati film-film Indonesia beredar di gerai maya ini. Ada yang menjual filmnya ke Netflix atau platform daring lainnya, seperti ‘Love for Sale’, ‘Galih dan Ratna’, ‘Ada Apa dengan Cinta 2’, dan ‘Mata Batin’. Di Hooq, ada ‘Sweet 20’, ‘Stip dan Pensil’, dan ‘Cek Toko Sebelah’.

Pola kerja sama lain dengan platform daring ini adalah pembuatan film atau webseries secara eksklusif (biasanya diembel-embeli kata “Originals”). Ada juga yang melabelinya dengan istilah “cable films”, seperti saat Robert Liefeld, sang kreator Deadpool, memuji TNCFU.

‘Apostle’ (Gareth Evans, 2018) juga adalah contoh “cable film” ini. Selain film feature, ada pula yang membuat webseries, seperti ‘Halustik’ (Viu Originals) dan ‘Brata’ (Hooq Originals).

Di HBO, Joko Anwar membuat ‘A Mother’s Love’ (bagian dari omnibus Folklore), yang diputar lebih dulu di Festival Film Internasional Toronto. Sebelumnya, Joko juga menyutradarai serial televisi Halfworlds di HBO. Serial Grisse, yang dibintangi Adinia Wirasti, pun ditayangkan HBO.

Namun, sepertinya budaya distribusi dan ekshibisi yang tradisional, khususnya ritual menonton di bioskop dengan dilengkapi sistem audio yang canggih, bukan berarti akan terancam punah.

Para platform daring ini pun masih percaya bahwa bisnis hiburan konvensional itu menguntungkan, sehingga mereka juga merambahnya. ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ dan ‘Critical Eleven’ disponsori oleh Hooq Originals.

Go-Studio, bagian dari Go-Jek juga ikut serta dalam produksi ‘Kulari ke Pantai’, ‘Aruna dan Lidahnya’,  ‘Keluarga Cemara’ (Kaskus juga berperan dalam film ini), ‘Buffalo Boys’, dan ‘Kucumbu Tubuh Indahku’. Sementara Iflix Originals mensponsori Sesat. Dan fenomena ini terjadi di seluruh penjuru dunia.

Politik Selera: Film Laga Garis Keras.

Sependek pengetahuan saya, dari amatan singkat beberapa tahun terakhir, film-film yang dibuat secara eksklusif karena pesanan khusus mempunyai beberapa karakteristik yang terkait politik selera. Semangat merayakan kekerasan dan genre fantasi popular serta cenderung non sensor (kecuali dengan klasifikasi usia yang agak susah diterapkan di era daring).

Pakem produksi dan selera juga berubah. Kebetulan, pada 2011, saya terlibat dalam Fantastic Indonesian Short Film Competition (FISFiC) bersama para sutradara, produser, dan direktur festival film—yang semuanya memiliki kertertarikan dengan genre film fantasi (horor, thriller, laga, sci-fi, superhero).

Mereka adalah Joko Anwar, Timo Tjahjanto, Kimo Stamboel, Gareth Evans, Sheila Timothy (Lifelike Pictures), dan Rusli Eddy (INAFF atau Indonesia International Fantastic Film Festival).

Ada banyak kesamaan pada diri para tokoh di dalam FISFiC ini, yaitu mempunyai selera dan standar kualitas yang global dan semangat menembus pasar internasional, serta kecintaan akan genre popular.

“Kalau mau saingan sama Ang Lee, jangan sama gue,” kata Joko, suatu ketika.

Maka, film-film bergenre popular bikinan mereka seperti menaikkan standar baru dalam perfilman Indonesia. Sebut saja ‘Merantau’, ‘The Raid’, ‘The Raid 2’, ‘Pintu Perlahan’, ‘Pengabdi Setan’, ‘Rumah Dara’ dan TNCFU.

Film-film laga mereka ini terbukti bisa lolos seleksi berbagai festival film kelas dunia sekaligus disukai oleh para penggemar film secara global.

Tentu hal ini karena bahasa audio visual yang sama atau familier dan nilai produksi yang tinggi. Singkat kata: film-film Joko, Kimo, Timo, dan Gareth sesuai dengan kebutuhan dan keinginan politik selera penggemar, penonton, dan distributor ataupun ekshibitor global. Tak berlebihan kalau mereka digolongkan sebagai peretas ke dunia baru di wilayah outlet maya ini.

Era Disrupsi Pra-Netflix

Perubahan modus produksi dan perkembangan teknologi juga dialami di era sebelum Netflix. Pada awal 1990-an, krisis ekonomi melanda. Banyak produser yang kemudian membuat film murah bernuansa seksploitasi, semacam ‘Gairah Malam’ dan ‘Bergairah di Puncak’.

Sedikit film dengan nuansa berbeda juga ada yang dirilis, seperti ‘Cinta dalam Sepotong Roti’ dan ‘Surat untuk Bidadari’ karya Garin Nugroho, serta film-film seperti’ Taksi’, ‘Sri’ ‘Telegram’, ‘Badut-Badut Kota’ dan ‘Cemeng 2005’.

Namun, yang paling menonjol adalah hijrahnya para pekerja film ke dunia baru kala itu yang dianggap lebih menjanjikan: industri televisi swasta.

Perpindahan berbondong-bondong juga pernah terjadi pada era pemerintah kolonial Belanda, kala dunia film mulai marak dan aktivitas sandiwara menurun.

Beberapa tokoh besar dari Dardanella dan sebagainya beralih menjadi produser dan bintang film, salah satunya adalah Ratna Asmara.

Karena itu, kalau diperhatikan, bahasa audio visual dalam film-film ketika itu masih berupa adaptasi seni pertunjukan tradisional. Cerita-ceritanya pun diambil dari kisah-kisah fantasi dan legenda yang sering mereka pentaskan di panggung.

Politik Selera Prokjatap Prosar

Pada masa Orde Baru, kaum elit budayanya itu unik. Walau bukan bagian dari pemerintah, tapi mereka terlibat secara aktif untuk membingkai perfilman Indonesia sesuai dengan politik seleranya.

Sedangkan dalam konteks global, pertempuran politik selera mereka dengan politik selera pasar secara global (terutama kebutuhan dan keinginan para penonton, penggemar, dan distributor internasional) juga sudah terjadi pada era 1980-an. Para elit budaya semasa era Orba Baru itu, melalui Dewan Film Nasional, membentuk Prokjatap Prosar (Kelompok Kerja Tetap Promosi dan Pemasaran Film Indonesia di Luar Negeri) pada 1981.

Tujuannya adalah mempromosikan film-film Indonesia, khususnya meloloskan ke seksi kompetisi, di berbagai festival film kelas wahid dunia. Maka, mulai Januari 1982, mereka pun berkeliling mulai dari Manila Film Festival (yang kala itu menjadi salah satu pusat perfilman se-Asia Pasifik dan berambisi menyaingi Festival Film Cannes).

Dalam jalur kompetisi di Manila, mereka berusaha memasukkan film semacam ‘Usia 18’, ‘Perempuan dalam Pasungan’, ‘Seputih Hatinya Semerah Bibirnya’, dan ‘Bukan Sandiwara’.

Semuanya ditolak. Namun, justru film-film seperti ‘Ratu Ilmu Hitam’, ‘Lima Cewek Jagoan Primitif’ dan ‘Janur Kuning’ yang laku di pasar film Manila.

Di Berlinale pada Februari 1982, Rosihan Anwar sebagai wakil ketua Prokjatap Prosar membuat konferensi pers. Dimoderatori oleh jurnalis Swiss, Eichenberger, narasumber yang tampil adalah Christine Hakim, Slamet Rahardjo Djarot, Edward Pesta Sirait, dan Djohardin dari Departemen Penerangan.

Namun, lagi-lagi rombongan ini gagal meloloskan film-film Indonesia di jalur kompetisi dan malah berhasil menjual lebih banyak film mistik dan horor di jalur pemasaran. Hal yang sama terjadi di Festival Film Cannes pada Mei 1982.

Film-film seperti ‘Jaka Sembung’, ‘Pengabdi Setan’, ‘Gundala Putera Petir’ dan ‘Membakar Matahari’ juga laku dan dipasarkan di sirkuit home video dan televisi di luar negeri.

Begitu pula yang terjadi dengan Mercato Internazionale Del Film Del TV Del Documentario (MIFED) di Milan (Oktober 1982), Berlinale (Februari 1983) dan Cannes (Mei, 1983).

Artinya, walau para elit budaya giat mengampanyekan “wajah Indonesia yang sebenarnya” dan “film kultural edukatif, tapi pada kenyataannya justru yang dikenal di luar negeri adalah film-film yang disebut para penggemar global dengan istilah “Crazy Indonesia”.

Representasi tentang Indonesia adalah kisah-kisah legenda, fantasi, horor lokal, “superhero” lokal dengan kekuatan supranatural, serta balutan kekerasan dan adegan sensual dalam film-filmnya. Inilah kekalahan politik selera mereka pada permintaan global, baik dari distributor ataupun penggemar.

Yang menarik, Prokjatap Prosar ini kemudian menjadi batu loncatan bagi Raam Punjabi (Parkit Films) dan Gope Samtani (Rapi Film).

Keduanya ikut berkelana bersama rombongan dan memahami seluk-beluk pemasaran film global sembari belajar menyesuaikan selera pasar transnasional itu.

Setelah Prokjatap Prosar dibubarkan pada 1983 karena pergantian menteri penerangan, kedua produser itu mulai memasarkan filmnya di luar negeri secara sporadis, bahkan menjalin kerja sama produksi dengan perusahaan film asing, termasuk Troma Entertainment.

Mereka kemudian memakai aktor asing seperti Cynthia Rothrock, termasuk aktor yang amatir (Peter O’Brian awalnya adalah guru, sedangkan Barbara Anne Constable dan Ilona Bastian adalah turis), untuk mengikuti gaya film-B asal Amerika Serikat.

Dengan demikian, kelindan antara politik selera berbagai kepentingan dari para pemangku kepentingan perfilman dengan era disrupsi adalah sebuah keniscayaan. Seperti kata sejarawan Kuntowijoyo, “Sejarah itu seperti spiral yang selalu berulang namun selalu maju ke depan.” (*)