Home » Voice Global News » Korban Bencana Alam Dapat Dikategorikan Sebagai Ashnaf Fakir

Korban Bencana Alam Dapat Dikategorikan Sebagai Ashnaf Fakir

JAKARTA, VoiceMagz.com – Penanganan bencana di Indonesia pada dasarnya merupakan tanggung jawab semua pihak. Salah satu institusi yang memiliki peran penting dalam konteks ini adalah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Peran BAZNAS diawali dengan fase rescue (upaya penyelamatan secara cepat dan tepat), relief (bantuan kebutuhan dasar untuk mengembalikan kemandirian korban), recovery (pengembalian keadaan sebelum terjadi bencana) dan reconstruction (pembangunan kembali sarana prasarana yang rusak akibat bencana).

“Saat terjadi bencana, masyarakat yang terdampak akan kehilangan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Aset-aset pribadi maupun umum yang rusak akibat bencana akan menghalangi produktivitas mereka dalam melakukan berbagai hal, misalnya dari segi ekonomi. Oleh sebab itu, mereka pun dapat dikategorikan sebagai ashnaf fakir dan berhak untuk mendapatkan zakat. Selain dapat diberikan uang zakat, para masyarakat terdampak bencana juga bisa diberikan bantuan dari uang infaq dan sedekah yang ada di BAZNAS.” ujar Ketua BAZNAS, Prof. Bambang Soedibyo saat ‘Public Expose Kajian Dampak Ekonomi Bencana’ di Jakarta, Kamis (11/10).

Secara detil, Dr Irfan Syauqi Beik selaku Direktur Pusat Kajian Strategis (Puskas) BAZNAS menjelaskan, mengenai perhitungan kerugian infrastruktur dan pemetaan potensi kerugian terbesar pada sektor ekonomi di wilayah terdampak yang dialami oleh Palu-Donggala.

Untuk Kota Palu, estimasi kerugian infrastruktur senilai 23,9T. Dari sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu industri (48 persen di Kecamatan Mantikulore), peternakan (39 persen di Kecamatan Palu Utara) dan hortikultura (40 persen di Kecamatan Tawaeli). Potensi infrastruktur kesehatan terdampak paling besar di Kecamatan Mantikulore (23 persen) dan infrastruktur pendidikan di Kecamatan Palu Timur (19 persen).

Untuk Kabupaten Donggala estimasi kerugian infrastruktur senilai 773,2 M. Dari sisi perekonomian potensi terbesar pada sektor yang terdampak yaitu perkebunan (38 persen di Kecamatan Sindue Tambusabora), peternakan (23 persen di Kecamatan Dampelas), hortikultura buah-buahan (32 persen di Kecamatan Sindue Tobata) dan Hortikultura sayur-sayuran (30 persen di Kecamatan Tanantovea). Potensi infrastruktur kesehatan dan infrastruktur pendidikan terbesar di Kecamatan Banawa Selatan (12 persen).

“Dengan adanya analisis dampak ekonomi bencana ini maka diharapkan hal tersebut akan memberikan panduan bagi BAZNAS untuk mendesain program intervensi dalam rangka pemulihan perekonomian lokal, baik di Palu-Donggala maupun di Lombok,” ujar Irfan. (NVR)

Check Also

Bengkulu, Kota SDGs Pertama di Indonesia

JAKARTA, VoiceMagz.com – Prestasi membanggakan diraih Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Kota ini kini memiliki predikat sebagai …