Home » Voice Film & TV » Review » ‘Sakral’, Visualisasi Balas Dendam atau Kekuatan Cinta Suci?

‘Sakral’, Visualisasi Balas Dendam atau Kekuatan Cinta Suci?

JAKARTA, VoiceMagz.com – Sejak duduk di bangku bioskop hingga film besutan Dee Company dan MD Pictures ini selesai, ada satu kata yang menjadi tanda tanya. Kenapa film ini diberi judul ‘Sakral’?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata sakral berarti suci atau keramat. Lalu, dimana keterikatan arti kata tersebut dengan jalan cerita film garapan sutradara Tema Patrosza ini yang garis besarnya adalah pembalasan dendam seorang gadis yang ditinggal pergi sang kekasih, lantaran jalinan cintanya tak direstui orangtuanya.

“Secara visual, judul Sakral kita pilih untuk menggambarkan adanya ritual yang dilakukan tokoh Bianca untuk membalaskan dendam pada mantan kekasihnya, Daniel yang memilih memutuskan jalinan kasih mereka dan memilih Melina untuk menjadi istrinya,” beber sang sutradara, Tema Patrosza usai Press Screening ‘Sakral’ di Jakarta, Sabtu (15/9).

Namun, bukan hanya penggambaran visual saja yang coba diharapkan bisa terwakili oleh film ini. Dikatakan Tema, ada makna lain dibalik judul film ini.

Ia dan tim produksi ‘Sakral’ juga coba menggambarkan adanya sisi humanisme dari sebuah kekuatan cinta suci yang mampu menangkal upaya Bianca membalaskan dendamnya.

“Bagaimana Daniel bersama Melina bersama-sama menghadapi teror arwah Bianca yang ingin membalaskan dendam. Dua makna ini coba kami gambarkan seimbang,” beber Tema saat ditanya mana yang lebih dominan diantara kedua makna kata Sakral dalam film ini .

Inilah akhirnya yang melandasi Tema beserta tim penggarap ‘Sakral’ memutuskan tak menggunakan hadirnya tokoh agama guna menghalangi niatan arwah Bianca merenggut nyawa Daniel dan Melina.

“Film ini berbeda, makanya kita tidak menggunakan tokoh agama yang biasanya hadir dalam menangkal upaya teror dari arwah,” ucap Tema.

Film ‘Sakral’ dibuka dengan adegan Melina (Olla Ramlan) yang tengah menunggu kelahiran anak kembarnya, hasil buah cintanya dengan Daniel (Teuku Zacky). Namun, apa mau dikata, anak kembar yang ditunggu Melina ternyata hanya impian, lantaran salah satu anak kembar itu meninggal dunia.

Daniel dan Melina pun terus terlarut dalam kesedihan, anaknya yang selamat, Flora (Makayla Rose) tumbuh menjadi anak pemurung dan misterius. Apalagi seiring Flora menginjak usia lima tahun, keluarga Melina selalu diteror gangguan gaib dan kematian orang-orang terdekat Melina. Melina sendiri kerap mendapat ancaman kematian.

Di tengah upaya menghindari teror tersebut, Daniel mengajak Melina dan Flora untuk berlibur. Saat berlibur inilah, ketiganya bertemu mantan kekasih Daniel, Bianca (Erika Carlina).

Anehnya, Flora langsung bisa akrab dengan Bianca. Hal inilah yang membuat Melina mengajak Bianca ikut ke rumah mereka.

Namun sesampainya di rumah, teror gaib pada Melina tak kunjung berhenti. Satu persatu, penghuni rumah Melina meninggal tragis lantaran di teror arwah gaib. Daniel pun akhirnya tak tinggal diam. Ia mencari tahu apa yang terjadi dengan keluarganya, yang ternyata berhubungan dengan bayi mereka yang telah meninggal dan rahasia besar yang tersembunyi di masa lalu.

Film ini juga dilengkapi dengan penggunaan Computer Generated Imagery (CGI) di beberapa adegan. Sayangnya, masih ada beberapa penggunaan CGI yang kurang mulus. Salah satunya saat adegan arwah Bianca yang terbakar, dan percikan apinya memercik ke tubuh Melina dan menyebabkan dirinya kemasukan arwah Bianca.

“Saya akui memang disitu kurang smooth. Tapi saat saya sadari, hal itu sudah fix, nggak bisa diubah lagi,” jawab Tema saat dikonfirmasi hal ini.

Namun ada hal yang patut diapresiasi dari akting Olla Ramlan di film yang menggabungkan tiga unsur, yakni, drama, action dan horor ini. Olla yang baru pertama kali bermain di layar lebar ini terlihat mengerahkan seluruh kemampuannya dalam berakting.

Kita tunggu debut film yang tayang perdana di 150 layar bioskop tanah air pada 20 September ini. Mampukah mencuri perhatian pecinta film Indonesia yang juga tengah dikepung oleh film horor impor seperti ‘The Nun’ atau ‘The Toybox’ serta film di genre petualangan fiksi seperti ‘The Predator’ dan ‘The House With a Clock in Its Walls’. (NVR)

Check Also

‘AIB #Cyberbully’, Jadi Bumerang atau Pemenang?

JAKARTA, VoiceMagz.com – Sudah tak perlu diragukan lagi jika bicara tema besar dan tujuan film …