Home » Voice Film & TV » Review » ‘Serendipity’, Rasa Baru Konflik Cinta Segitiga Anak Bandung Berlogat Betawi

‘Serendipity’, Rasa Baru Konflik Cinta Segitiga Anak Bandung Berlogat Betawi

JAKARTA, VoiceMagz.com – Banyak sudah film yang mengangkat kisah cinta segitiga, mayoritas mengharu biru penontonnya. Tipikal film terbaru besutan rumah produksi Virgo Putra Films yang diangkat dari novel laris karya Erisca Febriani ini pun juga menampilkan hal ini.

Bedanya, keharu biruan ini dikemas dalam bentuk kekinian yang banyak menyedot rasa baper, istilah anak muda jaman now yang menjelaskan suatu keadaan dimana perasaan ikut terbawa ke dalam sebuah masalah atau keadaan.

Ditambah lagi konflik masa lalu keluarga juga membuat ‘Serendipity’ punya kekuatan khusus yang tak sekadar menampilkan konflik cinta segitiga.

Cerita berpusat pada Rani (Mawar Eva de Jongh), siswi SMA ini banyak berubah perangainya setelah ayahnya meninggal dunia. Almarhum sang ayah yang meninggalkan hutang membuat Rani membuat keputusan paling berat dalam hidupnya yang berusaha dipendamnya rapat-rapat.

Ia terpaksa menjadi lady escrot guna melunasi utang-utang ayahnya. Arkan (Kenny Austin), sang kekasih memutuskan hubungan setelah mengetahui perkejaan Rani tanpa mau tahu apa yang melatar belakangi hal tersebut.

Hidup Rani makin hancur setelah rivalnya, Lola menyebarkan foto-foto Rani bersama om-om yang ditemaninya. Hingga sahabat karib Rani, Jean juga menjauh.

Saat Rani hidup dalam kesendirian di sekolah, Gibran (Maxime Bouttier), yang juga seorang vloger datang sebagai murid baru. Lewat waktu yang cukup lama, Gibran akhirnya bisa menjadi sahabat yang selalu membantu kesulitan Rani. Bahkan Gibran pun rela membantu melunasi hutang-hutang ayah Rani.

Dan Rani pun tak bisa mengelak jika akhirnya Gibran menyatakan isi hatinya. Walau ia tak bisa menyangkal jika hatinya masih untuk Arkan. Begitu juga sebaliknya, Arkan pun sebenarnya masih mengharap cinta Rani.

Dari sisi cerita dan alur, ‘Serendipity’ tak banyak kejangalan. Semua berjalan cukup mulus dan kerap memunculkan twist yang tak terprediksikan. Karakter pemain, terutama Maxime, Mawar Eva dan Kenny pun cukup kuat.

Hanya sedikit yang terlewatkan oleh Indra Gunawan sebagai sutradara. Mengambil setting kota Bandung bagi film ini, dialog yang ditampilkan semua pemain malah kental dengan logat khas anak muda Jakarta. Kata-kata ‘Elo’ dan ‘Gue’ sangat sering bermunculan. Tak ada dialog khas Sunda yang terjadi antara anak-anak SMA ini.

Bahkan kemunculan Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang kini sudah menjadi Gubernur Jawa Barat terpilih, lengkap dengan logat khas Sundanya serasa terkubur dengan kata-kata khas anak-anak Jakarta yang terus berhamburan dari awal hingga akhir film.

Belum lagi sejumlah dialog antara Rani, Gibran dan Arkan banyak yang terdengar terlalu dewasa bagi anak-anak SMA. Dialog tersebut sebenarnya akan enak di dengar jika diucapkan oleh anak kuliahan, bukan oleh anak yang masih berseragam putih abu-abu.

Namun dua hal tersebut sepertinya bakal tertutup oleh riuh rendah fans berat tiga tokoh utama di film ini. Saat Press Screening film ini digelar pada Jumat (3/8), tak sedikit fans-fans ketiganya, terutama fans Maxime yang memang diundang khusus menonton premiere film ini seperti tersihir oleh karakter yang dimainkan kekasih Prilly Latuconsina ini.

Sejauh mana film yang juga diisi aktor-aktor senior seperti Agus Melasz, Dian Nitami, Gunawan dan Marissa Nasution akan membuat penontonnya baper tingkat dewa? Kita tunggu saja mulai 9 Agustus 2018 ini. (NVR)

Check Also

‘AIB #Cyberbully’, Jadi Bumerang atau Pemenang?

JAKARTA, VoiceMagz.com – Sudah tak perlu diragukan lagi jika bicara tema besar dan tujuan film …